HUT Kemerdekaan kali ini sama seperti biasa tahun-tahun sebelumnya. Apakah sebuah euforia belaka atau memang masyarakat Indonesia benar-benar memiliki rasa nasionalisme itu? Pun tidak ada terlintas dalam pikiran untuk menulis atau update status di Facebook mengenai HUT Kemerdekaan kali ini.
Setelah membaca beberapa status teman-teman di Facebook, sebagian besar isinya kata MERDEKA. Ada juga status yang berisi lagu-lagu perjuangan. Semuanya pasang status, seolah nasionalisme hanya milik mereka. Ada pula yang mengobarkan semangat anti Malaysia. Ada juga merayakannya dengan tawuran antar tetangga. Ada juga tulisan-tulisan kritis dan menarik yang akhirnya membangunkan inspirasi untuk menulis seperti tulisan Bli Andi Arsana dan tulisan Gus Tulank.
Rasa bangga menjadi orang Indonesia berbanding dengan rasa malu dan marah. Mungkin saja. Di satu sisi, kita bangga akan keelokan budaya timur kita, bangga akan tata krama dan sopan santun bangsa Indonesia. Bangga akan nilai-nilai perjuangan dan semangat para pahlawan kita. Bangga akan kesuburan dan kekayaan alam Indonesia. Di sisi lain miris melihat polah para koruptor. Marah melihat para kapitalis yang mengeruk kekayaan Indonesia untuk pundi-pundi dinasti mereka. Jengkel melihat hukum yang sepertinya makin tidak bercaling.
Ketika kita muak dengan ke-Indonesiaan kita, masih ada kebanggan yang tersisa. Jika dulu pejuang bangga berhasil mengusir penjajah dengan bambu runcing, sekarang kebanggan itu tertulis di status Facebook. Ini yang kemudian saya sebut Nasionalisme Facebook. Kebanggan itu dimunculkan dengan pawai sepeda motor tanpa helm, membawa bendera dan memacetkan jalan. Ini yang saya sebut Nasi”onar”isme.
Citra bangsa itu dibangun oleh individu yang menghuni negara itu. Seperti kata Bli Andi Arsana, satu orang bisa menghasilkan pencitraan negatif atau positif atas sebuah bangsa. Jika bangsa ini dihuni oleh individu-individu positif pencitraan oleh bangsa lain tentu positif, begitu pula sebaliknya.
Nasionalisme tidak sebatas status di Facebook, atau menang lomba gerak jalan 45 kilometer. Atau berhasil meraih hadiah yang tergantung di pohon pinang. Nasionalisme yang dahulu diidentikan dengan berhasil mengusir penjajah. Kini, kreatifitas untuk menghasilkan sesuatu yang berguna bagi pencitraan positif atas bangsa ini. Bangsa ini perlu kreatifitas dan kejujuran dari individu-individu penghuninya.
Apa yang sudah kita berikan untuk bangsa ini? Jangan tanya, apa yang sudah negara berikan untuk kita…
Hari ini saya mendapatkan surat cinta dari seseorang… Berikut selengkapnya…
Harus saya apakan ini???
=============================
Kenalkan saya ada nama is Siti Farahdinah,saya tinggal 1A Priestley Way, manor royal, West Sussex, RH1033, United Kingdom.Saya saat ini berusia 30th.Ini saya ada HANDPHONE +447031864682) SMS: +447856903389SMS: +447856903389).
Saya berasal dari Indonesia dan Malaysia but telah lama saya tinggal di London, saya beragama moslem.Karena saya ada parents telah lama meninggal sewaktu kita masih tinggal di Kuta Bali so saya ikut pergi London dengan suami saya yang berkebangsaan London (United Kingdom).
Tetapi God telah ada takdir lain saya ada suami tuhan ambil karena accident mobil waktu dia go to luar city.belum ada 2 tahun saya menikah dan God juga belum memberi saya keturunan God sudah ambil saya ada suami. Cuma harta yang tersisa disini, rasa hati hampa tak ada kebahagiaan.
Saya ingin rasanya pulang ke Negara saya di Indonesia tapi saya tak ada sanak saudara. Tapi bagaimanapun saya tak bisa tuk tinggalkan mertua (inlaw) saya di London ini,mereka sudah seperti parents saya benar-benar.Warisan saya dari suami saya itu hampir 5,5millions dollars beserta satu company yang masih saya kelola. Saya ingin tuk investasikan 5.5million dari itu and sisa dari itu saya akan save tuk lanjutkan hidup saya.
Maka dari itu saya cooperative dengan London investment group. Untuk membantu saya tetapi saya sudah berbicara dengan company itu saya ingin untuk mencari sendiri orang tuk control saya ada investment dan mengelola saya ada uang.Kalau kamu benar berlatar belakang Indonesia tolong seandainya kamu bisa tuk jalankan rencana ini..
Saya tahu sudah dari lama tak bagus untuk mencari partner atau relasi dari internet tapi harus bagaimana lagi saya harus lakukan saya tak bisa tuk datang ke Indonesia karena saat saat ini kehadiran saya sangat dibutuhkan oleh mertua(inlaw) saya yang semakin lanjut usia ini dan jalan tuk dapatkan connections dari indonesia harus via internet.Kamu bisa hubungi saya di nomor telepon saya di London untuk membuktikan saya benar benar berada disini saya ada private email.
Lagi heboh-hebohnya buku Membongkar Gurita Cikeas, membuat saya penasaran untuk mencari bukunya ke Gramedia dan toko buku lainnya. Sayang, ternyata sangat terbatas, atau saking larisnya?
Dari dua hari yang lalu kemudian mencoba memburunya di situs-situs download gratisa. Akhirnya apa yang saya cari ketemu.
Kata-kata itu tiba-tiba saja terlintas, ketika memutuskan untuk menulis status di Facebook atau menulis sebuah posting di blog ini. Ketika sebagian pengguna internet dan blogger memilih melakukan update status Facebook atau Twitternya, tidak sedikit pula yang bertahan dan bahkan membuat blog baru.
Sejak kemunculan internet, kecenderungan pengguna internet melakukan aksi-aksi narsis meningkat tajam. Ketika jaman internet baru muncul, bermunculan personal website yang isinya tidak lebih dari sebuah Curiculum Vitae pemiliknya. Perlahan, internet makin berkembang ke arah yang lebih sempurna, lebih social dan interaktif, lahirlah berbagai macam blog dengan berbagai macam isi dan tujuan. Seiring kemajuan internet pula, kemudian lahir media-media social macam Facebook, Friendster dan sejenisnya dan diikuti oleh media micro blogging macam Plurk dan Twitter.
Blog sebagai Ajang Narsis
Blog, sebagai salah satu bentuk perwujudan internet menjadi sebuah media yang dimanfaatkan oleh sebagian pengguna internet. Pertama kali ngeblog, masih menggunakan penyedia layanan blogging gratisan, isinya tidak lebih dari artikel copy paste dari blog lain, plus sedikit perkenalan tentang “aku”. Saat itu yang muncul adalah rasa narsis, ingin tampil di dunia internet. Belum terpikirkan untuk sebuah eksistensi atau mencari uang. Yang terpikir adalah bagaimana saya bisa mejeng di internet. Pada tahap ini mungkin blog saya bisa dikatakan sebagai ajang narsisme. Ini mungkin sebuah blog yang bersifat narsis
Blog Matre
Proses berikutnya menginjak kepada proses pemanfaatan blog. Ngeblog sudah muali terarah. Sudah mulai terpikirkan, bagaimana menutup biaya koneksi internet dengan cara ngeblog. Search engine membantu menemukan berbagai model bisnis internet dengan media blog. Mulai dari Adsense, Affiliate Program, jualan E-book, sampai jualan jasa. Semuanya menggunakan media blog. Semuanya dicoba. Di awal, hasil yang diharapka tidak sebanding dengan pekerjaan untuk mengurus blog. Masih saja untuk membayar koneksi internet mesti membobol uang gaji. Namun, perlahan-lahan ketika konsep jualan menggunakan blog menemukan arah yang tepat, akhirnya ngeblog bisa menghasilkan uang.Blog saya yang ini mungkin bisa menjadi contoh. Atau blognya Pak Sanat Kumara.
Blog Idealis
Ada pula blog yang isinya bukan bertujuan materi atau narsis. Penulisnya lebih berorientasi kepada konsep-konsep pemikirannya. Idenya dituliskan. Lebih fokus pada satu bidang yang dia kuasai betul. Bertujuan menunjukkan jati diri, tentang siapa aku. Bukan siapa aku dari kulit luarnya, tapi lebih kepada siapa aku dan apa yang aku pikirkan. Ketika pada tatanan ini, dia tidak akan bercerita tentang pribadinya. Tapi lebih banyak bercerita tentang idenya. Tentang pemecahan masalah yang terkait dengan keahlianya.Nah, kalau yang ini mungkin blog Bli Gendo bisa mewakili. Atau blognya Ancak.
Blog dan Eksistensi
Terlepas dari semua tujuan ngeblog itu, pada dasarnya manusia butuh pengakuan/eksistensi. Untuk mendapatkan pengakuan itulah kemudian muncul berbagai aksi untuk mendukung pengakuan itu. Jika anda ingin mendapat pengakuan karena foto-foto atau curhatan Anda, mungkin anda baiknya menulis blog narsis. Tapi jika lebih memilih blog yang merepresentasikan siapa diri Anda, buatlah blog yang idealis, yang mencerminkan pemikiran Anda. Dan jika lebih memilih mendapat pengakuan karena nilai materi, blog matre menjadi pilihan Anda. Apa pun yang Anda tulis di blog, tidak ada yang bisa menjudge benar atau salah. Semuanya kembali kepada sikap kita sendiri. Setiap orang mempunyai cara yang berbeda untuk mengekspresikan diri. Jadi jangan takut, tidak ada yang salah dalam ngeblog. Yang perlu diperhatikan justru undang-undang. Jangan sampai tulisan Anda di blog mengantarkan Anda ke bui. Kalau sudah begitu, yang terjadi adalah blog untuk sebuah penjara…
Selamat Ngeblog… Mai Ngeblog Apang Tusing Belog
*) ini cuma penpadat pribadi, bukan berdasar penelitian. Masih banyak jenis bisa dikembangkan.
Anda mungkin sudah mengenal Facebook , bahkan sudah menggunakannya. Facebook adalah situs layanan pertemanan (sosial media) yang belakangan berkembang sangat pesat dan digandrungi oleh masyarakat dari berbagai lapisan umur.
Total pengguna Facebook saat ini di seluruh dunia mencapai 314 juta lebih, sedangkan di Indonesia mencapai 11,75 juta, dengan persentase sekitar 3,72 persen dari total pengguna Facebook seluruh dunia. Pengguna terbanyak berada di kisaran umur 18-24 tahun (40,1%) disusul rentang usia 25-34 tahun (25,3%) dan tempat ketiga diduduki rentang usia 14-17 tahun (21%). Dan, dilihat dari sisi gender, pengguna pria mencapai 58,1% dan pengguna wanita sebesar 41,9% (data CheckFacebook.com).
Pesatnya perkembangan Facebook ini dapat dimaklumi. Dari berbagai situs layanan sosial yang bertebaran di internet, Facebook menawarkan berbagai kelebihan dibandingkan dengan rekan-rekan sejawatnya sesama situs layanan sosial.
Hal yang membuat situs-situs layanan sosial semacam Facebook menjadi situs favorit para pengguna internet tidak terlepas dari keinginan tiap individu untuk berinteraksi, baik interaksi yang dilakukan dengan teman atau keluarga maupun interkasi untuk mendapatkan teman yang lebih banyak dari seluruh dunia.
Fenomena berkembangnya pengguna situs-situs layanan sosial bukan saja dimanfaatkan untuk sekadar pertemanan. Berbagai kepentingan bisa terjadi ketika individu-individu berkumpul. Seperti Kampanye Gerakan 1 juta Pengguna Facebook mendukung Candra Hamzah & Bibit Samad Rianto. Atau dukungan terhadap Prita Mulya Sari yang berhadapan dengan pengadilan terkait kasusnya dengan Rumah Sakit Omni International. Yang lebih hebat lagi adalah ketika Facebook dipergunakan oleh Obama sebagai media kampanye untuk memenangkan pemilihan presiden Amerika Serikat.
Untuk kepentingan bisnis, makin banyak perusahaan mulai mengerti akan bagaimana kekuatan Facebook . Perusahaan-perusahaan besar kini bukan hanya berkutat di media mainstream (TV, radio dan media cetak) untuk beriklan atau menciptakan brand . Penciptaan brand dan strategi pemasaran kini menyasar website yang interaktif dan seringkali dipadukan dengan media sosial semacam Facebook .
Facebook untuk Branding , Trafik dan Penjualan
Seorang teman penjual kebaya memiliki akun Facebook . Sampai saat ini sudah memiliki jaringan teman di atas 3.000 orang. Dalam seminggu dia bisa menghasilkan 5-10 motif kebaya baru yang dijual berkisar antara Rp 250.000 sampai Rp 1.000.000/buah. Dia belum memiliki toko atau butik. Tokonya adalah rumahnya dan pemasarnya adalah Facebook . Tiap minggu dia memajang produk-produk terbarunya di Facebook . Dalam hitungan menit, semua produk kebaya laku terjual. Pelanggannya bukan hanya dari Bali, tapi menyebar sampai ke luar daerah, bahkan ke mancanegara.
Dari kasus ini, Facebook merupakan satu-satunya sales bagi penjual kebaya tadi. Interkasi berjalan melalui fasilitas chatting dan saling komentar antardinding para pemilik akun Facebook . Ketika kesepakatan tercapai, pengiriman dan sistem pembayaran ditentukan juga atas dasar kesepakatan antara penjual dan pembeli.
Dari sisi branding , pencitraan terjadi karena adanya interaksi antarpengguna Facebook . Komunikasi terjadi, antara calon pelanggan/pelanggan dengan sesama pelanggan dan pelanggan dengan penjual. Rekomendasi positif dari pelanggan yang loyal mendongkrak penciptaan branding yang kuat.
Dari sisi trafik dan penjualan, makin banyak teman dan jaringan yang dimiliki oleh penjual, penyebaran informasi produk makin luas pula. Dengan meluasnya penyebaran informasi produk, ditambah pencitraan yang baik dari brand yang dijual pada akhirnya meningkatkan penjualan/ sales .
Facebook untuk Analisis Market
Tren terhadap satu produk dewasa ini berjalan sangat cepat. Arus informasi yang tanpa henti dari berbagai media membuat masyarakat mendapatkan informasi yang cepat untuk mengikuti satu tren.
Facebook bisa dimanfaatkan untuk menggali ide-ide segar untuk meciptakan tren baru yang unik. Ketika Anda akan menciptakan satu produk baru, sebelum produk benar-benar diciptakan dan dijual ke pasar, riset untuk mendapatkan feedback dari pasar mutlak diperlukan. Ketika zaman media mainstream, menggali opini konsumen memakan waktu dan biaya. Kini dengan website dan Facebook Anda bisa menggali opini konsumen dalam beberapa menit.
Konsumen akan sangat senang ketika opini mereka didengarkan oleh produsen. Interkasi yang terjadi lewat Facebook memungkinkan viral communications antarpengguna Facebook . Komunikasi terjadi antarkonsumen dan konsumen dengan produsen. Jika Anda cerdas memanfaatkan komunikasi yang terjadi, sebenarnya Anda sudah melakukan analisis market untuk menunjang penjualan produk atau penciptaan brand produk Anda.
Group, Fans Page, Facebook Marketplace dan Facebook Ads
Belum merasa cukup menggunakan Facebook hanya dengan pertemanan? Saatnya Anda berpikir untuk mencoba layanan Facebook Group, Facebook Page, Facebook Marketplace dan Facebook Ads. Layanan Group dan Page tidak jauh berbeda dengan layanan pertemanan biasa. Sedangkan Facebook Marketplace memang ditujukan sebagai pasar oleh pengelola Facebook . Sedangkan layanan Facebook Ads merupakan layanan berbayar dengan sistem Pay Per Click atau Cost Per Thousand, yang berbarti Anda membayar sebanyak berapa kali iklan Anda diklik atau seberapa ribu kali iklan Anda ditayangkan di Facebook .
Apa pun pilihan Anda untuk mengiklankan produk Anda, tentu sudah melalui proses analisa yang mendalam. Facebook Marketing merupakan sesuatu yang baru, dan bisa dijadikan alternatif lain untuk strategi marketing produk Anda.
Dalam tulisan Hermawan Kartajaya yang berjudul “Berkreasi Bersama Pelanggan”, pelanggan diajak untuk berkreasi menemukan inovasi terbaru sesuai dengan keinginan pelanggan dengan tujuan mempertahankan pelanggan lama dan menarik pelanggan baru.
Dalam new wave marketing saat ini yang ditunjang fasilitas web 2.0 yang kaya fitur, mengajak pelanggan berkreasi bersama-sama bukanlah hal yang sulit. Tinggal menyediakan sistem website yang interaktif, pelanggan dapat menjadi inovator, bahkan ketika pemikiran akan satu produk baru belum terpikirkan oleh product creator.
Jika pelanggan bisa diajak untuk berkreasi memikirkan dan mendesain suatu produk, tentu pelanggan bisa dijadikan sebagai agent marketing perusahaan. Fasilitas social media memungkinkan rekomendasi positif dari pelanggan menyebar secara cepat ke seluruh relasi yang dimiliki oleh pelanggan. Ketika pelanggan puas terhadap suatu produk atau layanan, mereka akan loyal dan tidak akan ragu-ragu membagikan pengalaman positifnya melalui Facebook atau Twitter. Dalam pasar yang sudah menjadi datar, informasi tentang suatu produk tidak lagi bersifat one to many atau one to one, tetapi sudah bersifat many to many.
Untuk menggiring pelanggan menjadi agent marketing, bukan di situ tingkat kesulitannya. Karena tanpa disuruh pun pelanggan akan melakukannya. Dengan catatan pelanggan puas dengan layanan atau produk yang dibelinya. Yang menjadi tantangan adalah bagaimana mempertahankan layanan atau produk terbaik sehingga pelanggan puas.
Kepuasan pelanggan menjadi mutlak. Mempertahankan dan meningkatkan kualitas produk atau layanan adalah kuncinya. Perusahaan dituntut untuk terus berinovasi. Mengajak pelanggan berkreasi merupakan salah satu elemen penting dalam melakukan inovasi produk.
Bagaimana jika perusahaan terlanjur membuat kesalahan? Bukankah dalam era web 2.0 ini, informasi negatif lebih cepat menyebar ketimbang informasi positif? Disini pula terletak tantangannya. Ketika bad recomendation terlanjur menyebar, bukan berarti perusahaan bersiap untuk kolaps. Jika perusahaan pintar mengelola negative recommendation menjadi positif recommendation, pelanggan akan masih setia.
Contoh kasus yang mungkin menjadi pembelajaran ini adalah ketika Apple menangani pelanggannya, Casey Neistat yang kecewa terhadap produknya. iPhone yang dibelinya baru 18 bulan ternyata rusak dan tidak ada baterai cadangan yang bisa dibeli sebagai pengganti. Casey yang terlanjur kecewa terhadap produk Apple yang dibelinya lantas membuat satu film yang berisi ketidakpuasan terhadap produk iPhone yang dibelinya, kemudian mempublikasikannya di berbagai website dan ditonton jutaan orang. Sebuah pukulan telak terhadap perusahaan sebesar Apple.
Tetapi Apple tidak bertindak seperti layaknya manajemen Rumah Sakit Omni Internasional yang kemudian menempuh jalur hukum karena Prita dianggap mencemarkan nama baiknya. Steve Jobs, si boss Apple menempuh cara yang berbeda. Dia kemudian mengirimkan sebuah iPhone gratis kepada Casey. Ditambah lagi Apple mengeluarkan regulasi untuk bisa membeli baterai pengganti
Dapat dibayangkan kemudian, betapa senangnya Casey mendapat perlakuan Apple. Dengan senang hati dia akan menuliskan kesenangannya dan diceritakan kepada seluruh jaringan pertemanan yang dimilikinya. Secara tidak langsung, Casey yang sempat kecewa berubah menjadi agent marketing yang tanpa disuruh pun menyebarkan informasi positif.
Menggerakan pelanggan dalam era web 2.0 bukan satu hal yang mustahil. Bahkan ketika pelanggan kecewa pun, dan terlanjur menyebarkan rekomendasi negatif, dan jika perusahaan inovatif bisa merubahnya menjadi rekomendasi positif. Yang patut dipertahankan adalah kualitas layanan dan produk dan cara berpikir out of the box. Jangan menganggap remeh kekuatan media web 2.0. Dengan 140 karakter tulisan pelanggan bisa mmempromosikan produk anda, atau melambungkannya.
Kali pertama memutuskan untuk menjadi pengangguran, sebenarnya sudah mempersiapkan mental untuk meninggalkan kemapanan. Mapan yang dimaksud adalah pemasukan bulanan yang menetap. Sementara dengan menjadi “pengangguran” pemasukan tidak menentu. Hanya berbekal semangat, sedikit skill yang dibawah rata-rata, keberanian dan nekat, sudah hampir setahun melakoni hidup tanpa pekerjaan jelas. Mencoba merintis usaha bermodal otak tanpa dana.
Kini, mencoba tidak lagi menyebut diri pengangguran. Mencoba mencapai apa yang disebut entrepreneur, wiraswasta, atau pengusaha. Masih dalam skala kecil, dikerjakan dengan serabutan. Layaknya dagang sate, semua dikerjakan sendiri. Masalah selalu datang, terutama yang berkaitan dengan finansial. Berjuang memulai sebuah usaha tanpa modal sama sekali, bukan perkara mudah. Memutar arus pengeluaran dan pemasukan kadangkala malah menyulitkan sendiri. Akibatnya tekor. Kantong kempes, pembayaran gaji karyawan tertunda. Menyedihkan. Semua semangat yang dihimpun dari setahun lalu, melemah.
Tatkala PNS menjadi idola bagi sebagian orang, kadang terbersit keinginan untuk ikut meramaikan, walau hanya sebatas mendaftar karena tidak yakin akan lulus. Gimana mau lulus, wong sekolah aja bolos, dana cekak, nombok gak mungkin. Bertemu dengan teman-teman SMA dulu, telah sebagian besar menyandang NIP. Kadangkala iri juga melihatnya. Karena PNS menjadi begitu bergengsi, di mata tetanggaku, di mata sebagian orang. Menjadi PNS seakan menjadi jaminan, bahwa hidup akan aman, selamanya. Begitulah saran, yang selalu kudengar setiap saat seperti sekarang ketika banyaknya lowongan menjadi abdi negara.
Kembali ke topik, menjadi entrepreneur, menjadi melarat, menjadi susah. Benar, tidak dapat dipungkiri. Menjadi entrepreneur adalah pilihan hidup untuk menjadi susah. Susah pikiran, susah keuangan, susah manajemen. Dan beribu kesusahan lainnya. Seperti ketika pagi ini, ketika terlambat setengah hari saja menyelesaikan pekerjaan karena kebaikan hati PLN mematikan listrik, membuatku diancam dilaporkan ke polisi oleh pelanggan. Meski mencoba meminta maaf, dan dimaafkan, kadang kata-kata pedas dari pelanggan telah menjadi hidangan yang paling pahit. Ya, menjadi pengusaha memang membuat melarat. Dan itu terjadi ketika kita sedang dalam posisi hampir-hampir menyerah.
Ketika otak lagi lurus, pilihan menjadi pengusaha adalah petualangan, adalah sebuah peluang, adalah sebuah kenikmatan. Berpetualang mencari berbagai terobosan inovatif, mencari peluang untuk menjadi lebih, dan ketika semua itu didapat, di situ titik kenikmatannya. Bahkan kenikmatannya mungkin mengalahkan orgasme untuk yang pertama kali, atau mengalahkan nikmatnya kuliner terfavorit.
Nah, yang tadi itu keluhan. Sekarang mencoba sedikit lebih teoritis.
Singapura menjadi maju karena sebagian besar penduduknya adalah pengusaha. Sesuai data yang didapat dari Kompas (gaya karena langganannya Kompas), pendapatan domestik bruto (per kapita) negeri Singa itu berkali lipat jika dibandingkan dengan Indonesia. PDB per kapita Singapura mencapai 35.163 US$, sedangkan Indonesia hanya 1.925 US$. 18 kali lipat lebih besar.
Sistem pendidikan berpengaruh besar terhadap pola pikir masyarakatnya. Sistem pendidikan kita yang adalah masih sisa-sisa produk orde baru yang mendoktrin bahwa menjadi abdi negara adalah sebuah pilihan yang paling bijak kini masih melingkupi pola berpikir sebagian besar masyarakat. Kurikulum pendidikan lebih menekankan sisi teori ketimbang sisi praktis. Hasilnya, sarjana hanya berorientasi bagaimana mendapatkan pekerjaan, bukan meciptakan peluang kerja. Dan, banyak dari pengusaha itu sebenarnya tidak lulus dari perguruan tinggi. Beberapa teman sukses menjadi pengusaha tanpa gelar dari universitas. Mereka menjadi pengusaha bukan karena hasil olahan materi ajar yang didapat di tempat pendidikan, tapi lebih kepada passion atau bakat mereka menjadi pengusaha.
Susahnya mendapatkan fasilitas modal dari negara, juga salah satu penghambat berkembangnya industri kecil di negeri ini. Untuk meminjam dana kurang dari sepuluh juta saja perlu agunan. Sementara banyak calon pengusaha yang memulai dari titik nol, alias tanpa modal. Jadi, apa yang akan dipakai agunan?
Begitulah, menjadi entrepreneur adalah pilihan menjadi melarat. Bersiap meninggalkan zona kenyamanan dan kemapanan. Pilihan menjadi pengusaha tidak selalu manis. Banyak yang mencibir ketika misalnya usaha yang kita geluti tidak berhubungan dengan ilmu yang kita dapat di universitas.
Tapi, ke depan saya yakin banyak orang yang siap menjadi ebtrepreneur, meski harus menghadapi resiko melarat. Ayo, berwirausaha. Kantor pemerintah sudah terlalu penuh untuk diisi PNS lagi. Kasian juga uang rakyat lewat pajak yang dibayarkan hanya untuk menggaji oknum yg kadang ke kantor hanya untuk ngabsen.
Sebuah undangan seminar internet marketing datang lewat Facebook saya pagi ini. Biayanya tidak tanggung-tanggung, 6 digit untuk satu hari (beberapa jam tepatnya). Hmmm, lumayan mahal yah? Di tempat dan waktu lain saya juga menjumpai sebuah kursus internet marketing, harganya tiga kali lipat dari harga seminar tadi. Untuk ukuran saya, uang segitu lumayan menguras isi kantong. Tapi saya tidak tahu pasti, apak penyelenggara seminar atau kursus internet marketing mendapatkan peserta dengan menarik bayaran sebesar itu? Cuma, perkiraan saya sih iya, buktinya mereka bisa survive.
Dengan bahasa marketing, tentunya janji-janji yang ditawarkan brosur tadi kelihatan bombastis, dan bahkan mungkin sedikit muluk-muluk. Misalnya, “Bagaimana meraup dollar dengan Google Adsense”, atau “Bagaimana mencipatakan toko online impian Anda secara instan?” Kadang promosi yang dilakukan juga menggunakan media periklanan gratisan yang kini tumbuh bak jamur di musim hujan. Bahkan, sebuah perusahaan yang sering menyelenggarakan event-event semacam seminar internet marketing masih menggunakan cara-cara yang kurang simpatik. Saya mengatakan tidak simpatik karena saya sudah melakukan unsubscribe di sistem newsletter mereka, toh setiap akan melakukan sebuah event, tetap saja saya menerima penawaran-penawaran yang bahkan bisa lebih dari sekali untuk sebuah event yang sama.
Memang semua orang boleh berdagang. Siapa pun berhak menawarkan barang dagangannya. Apa pun bentuknya. Toh semua yang dijual biasanya ada pembelinya. Tapi kembali ke internet marketing tadi. Jika anda tidak bijak memilih kursus internet marketing, bisa jadi penghasilan berlimpah yang dijanjikan tadi cuma tinggal angan. Karena materi atau modul yang mereka berikan cuma hasil copy paste atau materi dasar yang pada dasarnya bisa anda temukan dengan mudah di internet.
Ketika anda memutuskan untuk bergabung dalam sebuah kursus internet marketing, yang wajib anda tanyakan pertama kali adalah isi brosur mereka. Misalkan, di brosur disebutkan “Cara mudah mendapatkan penghasilan dari Google Adsense”. Tanyakan pada penyelenggaranya, berapa dollar yang mereka dapatkan dari hasil Adsense yang mereka geluti. Atau misalnya mereka menjanjikan trafik yang tinggi untuk bidang pariwisata misalnya hotel dan villa. Tanyakan pada mereka, apa mereka pernah memanage villa dan berapa tingkat hunian villa yang mereka kelola.
Ingat, jangan sampai Anda membeli kucing dalam karung. Bahasa iklan seringkali berlebihan, dan jauh dari apa yang Anda harapkan. Tidak ada yang instan. Semuanya butuh proses. Anda tidak cukup mengetahui bisa mendesain sebuah website menggunakan dreamweaver atau membuat blog dengan menggunakan WordPress untuk sukses di bisnis online. Bisnis internet itu kompleks, sama halnya dengan bisnis offline. Segala aspek bisnis mesti terpadu satu sama lainnya. Pengetahuan tentan internet dan website wajib anda tahu, dan tentunya harus didukung oleh pengetahuan di bidang yang akan Anda jual. Ketika anda mau menjual mobil, anda harus tahu tentang otomotif. Tapi jika Anda punya modal dan bisa menggaji orang, tentu anda bisa membayar orang lain untuk divisi-divisi tertentu.
Ketika telah memutuskan mengikuti sebuah kursus internet marketing, sebenarnya itu sebuah modal untuk menapaki bisnis online. Paling tidak minat itu sudah ada. Cuma jangan sampai minat bangkit karena terpengaruh oleh bahasa iklan. Ketika minat itu tumbuh, cukup pupuk dengan sabar, pelihara minat itu, kembangkan minat itu dengan mempelajari setiap segi bisnis yang berhubungan dengan rencana anda.
Dalam banyak kasus, sebuah website dibuat dan hanya jadi pajangan online sebuah perusahaan. Tidak dimanfaatkan. Sayang, investasi yang lumayan besar tidak diikuti oleh maintenace dan penggunaannya secara optimal. Yang terjadi kemudian adalah website tidak berperan maksimal. Yang harusnya website bisa dimanfaatkan sebagai media promosi & branding paling depan, lantas cuma berperan sebagai pajangan kaku. Padahal di kartu nama dengan gagahnya menulis URL websitenya.
Begitu juga dengan email. Banyak perusahaan kecil menengah masih menggunakan email gratisan dalam komunikasi bisnisnya. Hey bung, ini bukan di jaman tahun 80an, ketika email masih menjadi barang langka. Dalam komunikasi bisnis saat ini, email merupakan sarana paling umum digunakan, mengalahkan faximile atau surat-menyurat lewat pos.
Pada tahun 1979, Compuserver merupakan perusahaan pertama yang mengembangkan model komunikasi elektronik dalam komunikasi bisnis dan komunikasi internalnya. Model email pertama masih menggunakan sandi-sandi berupa digit angka. Masih susah bukan? Dengan perkembangan internet dari tahun ke tahun, akhirnya format email menjadi lebih menarik dan bisa menjadi sebuah identitas bagi si pemiliknya. Misalnya email pertama saya didi_suprapta@blabla.com. Kesan personal dan identitas sudah muncul.
Kini email bukan lagi disediakan oleh portal-portal penyedia jasa email seperti Yahoo, Gmail, Hotmail dan sebagainya. Toh, masih saja banyak orang yang menggunakan email dengan format mycompany@yahoo.com misalnya. Seiring makin murahnya harga domain (berkisar 10 dollar per tahun), akhirnya makin banyak perusahaan yang mengerti akan pentingnya membangun identitas dan branding lewat email dan website. Namun, masih saja ada yang takut berinvestasi 100 ribu/tahun untuk sebuah branding. Beberapa klien saya masih lebih suka menggunakan email gratisan. Alasannya, sudah terlanjur tersebar, repot gonta-ganti email, dan beribu alasan yang membuat mereka enggan menggunakan email dengan menggunakan domain perusahaannya.
Ketika kita sudah memutuskan untuk mengonlinekan bisnis kita, branding perusahaan kita dimulai dari domain dan email kita. Seorang web master yang baik akan menjelaskan bagaimana domain dan email akan membantu mempromosikan brand anda secara global. Sehingga domain dan email anda menjadi media promosi yang optimal untuk bisnis kita.
Percaya atau tidak, ketika komunikasi anda menggunakan email dengan domain anda sendiri, kepercayaan konsumen meningkat.
Jadi apa yang harus dilakukan jika Anda belum mempunyai email dan domain sendiri. Berikut skenarionya:
1. Jika Anda sudah punya domain dan email sendiri, optimalkan. Mulailah gunakan email dengan domain anda sendiri. Jika website belum optimal, optimalkan. Promosikan lewat berbagai cara, pastikan sudah dideteksi oleh mesin pencari. Tanyakan pada webmaster anda bagaimana caranya
2. Sudah punya email sendiri, tapi website masih belum dibangun? Segera bangun website Anda.
3. Belum punya domain atau email, pastikan anda memilikinya segera. Banyak bandit di luar sana. Jika brand anda sudah terkenal, bisa saja domain yang anda idamkan sudah didaftarkan oleh bandit-bandit broker domain.